Abdulmaalik’s Weblog

belajar melalui jaringan

Juni 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

oleh:

abdul malik

I. PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Manusia tercipta sebagai makhluk yang mampu berpikir (homo sapien), makhluk sosial (homo sosious), dan makhluk yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa (homo religius) sekaligus juga sebagai makhluk yang unik. Unik dalam segala perilaku dan perbuatannya, sehingga terkadang sulit diprediksi untuk apa manusia berbuat sesuatu, yang kadang-kadang sulit diterima berdasarkan nalar yang sehat atau secara normal. Istilah normal ini pun juga bukan patokan yang pasti tetapi tergantung orientasi kita (kapan, dimana dan siapa). Suatu tingkah laku yang dilakukan seseorang dapat dikatakan baik atau tidak baik, normal atau tidak normal, sehat atau tidak sehat, dan sebagainya sebenarnya sangat ditentukan orientasi  seseorang dalam kehidupannya. Keunikan yang ada pada manusia tidak hanya terlihat dalam tingkah laku yang bisa dianggap normal atau sehat saja, tetapi juga bisa terlihat pada perilaku-perilaku yang dianggap menyimpang seperti kasus-kasus bersifat sadistis.

B. Ciri-Ciri Mental

Banyak manusia menganggap dirinya organisme terpintar dalam kerajaan hewan, meski ada perdebatan apakah cetaceans seperti lumba-lumba dapat saja mempunyai intelektual sebanding. Tentunya, manusia adalah satu-satunya hewan yang terbukti berteknologi tinggi. Manusia memiliki perbandingan massa otak dengan tubuh terbesar di antara semua hewan besar (Lumba-lumba memiliki yang kedua terbesar; hiu memiliki yang terbesar untuk ikan; dan gurita memiliki yang tertinggi untuk invertebrata). Meski bukanlah pengukuran mutlak (sebab massa otak minimum penting untuk fungsi “berumah tangga” tertentu), perbandingan massa otak dengan tubuh memang memberikan petunjuk baik dari intelektual relatif. (Carl Sagan, The Dragons of Eden, 38)

Kemampuan manusia untuk mengenali bayangannya dalam cermin, merupakan salah satu hal yang jarang di temui dalam kerajaan hewan. Manusia adalah satu dari empat spesies yang lulus tes cermin untuk pengenalan pantulan diri – yang lainnya adalah simpanse, orang utan, dan lumba-lumba. Pengujian membuktikan bahwa sebuah simpanse yang sudah bertumbuh sempurna memiliki kemampuan yang hampir sama dengan seorang anak manusia berumur empat tahun untuk mengenali bayangannya di cermin. Kemampuan mental manusia dan kepandaiannya, membuat mereka, menurut Pascal, makhluk tersedih di antara semua hewan. Kemampuan memiliki perasaan, seperti kesedihan atau kebahagiaan, membedakan mereka dari organisme lain, walaupun pernyataan ini sukar dibuktikan menggunakan tes hewan. Keberadaan manusia, menurut sebagian besar ahli filsafat, membentuk dirinya sebagai sumber kebahagiaan.

       Agar berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia dapat berkembang dengan baik, maka dalam belajar perlu memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, yang salah satunya adalah belajar melalui internet maupun jaringan maya.

Berdasarkan uraian tersebut, Apa yang dimaksud dengan belajar dengan jaringan maya dan bagaimana melakukan  ?

 

II. PEMBAHASAN

           Pada hakekatnya, alam semesta ini merupakan sumber belajar bagi manusia  sepanjang massa.  Jika Anda sependapat dengan asumsi ini, maka pengertian sumber belajar merupakan  konsep yang sangat luas meliputi segala yang ada di jagad raya ini. 

Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa.  Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan/latar.  

           Hal yang perlu diperhatian adalah, agar bisa terjadi  kegiatan belajar pada siswa, maka siswa harus  secara aktif melakukan  interaksi  dengan berbagai sumber belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin  terjadi jika ada interaksi antara  siswa dengan  sumber-sumber belajar. Dan inilah yang seharusnya diusahakan  oleh setiap pembelajar (instructor, guru) dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi   dengan berbagai sumber belajar yang ada.  Bukan hanya sumber belajar yang berupa orang , melainkan juga sumber-sumber belajar yang lain.  Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang khusus, melainkan juga sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan.  Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kita.    

 

A. Jaringan Maya

1. Pengertian internet sebagai jaringan.

 

 

 

Apa itu Internet, apakahan sebuah campuran baru dari telur dan kornet? Sebuah media, teknologi atau mainan baru bagi si gila informasi? Alat pengganti dukun? Yang pasti seperti dari iklan, kita tidak bisa mencari motor yang di curi di Internet. Tapi, tapi, percaya atau tidak, bagi orang yang terlatih dan menganggap internet sebagai sahabatnya, di negaranegara tertentu, yang bukan Indonesia,hiks, dia bisa saja mencari informasi tersebut lewat internet. Bahkan seseorang bisa mencari tahu siapa pembeli sebuah barang, semua lewat Internet. Yang pasti Internet sudah merupakan dunia sendiri, dunia maya, gitu kata orang. Maya apanya, ghaib? Yang pasti tidak  ada hubunganya dengan bidang paranormal apalagi paratrooper. Internet itu ada, sebuah dunia yang dapat dimasuki. Tapi

kita memang tidak bisa merasakan, menyentuh dan melihat langsung. Makanya di bilang dunia maya. Berdasarkan uraian dan alasan-alasan tersebut, persoalan yang akan dibahas adalah  APA ITU INTERNET ?

 

Internet mempunyai nama panjang Inter Networking atau hubungan antar  jaringan komputer. Internet adalah sebuah jaringan komputer yang menghubungkan komputer-komputer di seluruh dunia , sehingga terbentuk ruang maya jaringan komputer (cyberspace). Jaringan komputer sendiri secara sederhana dapat di artikan sebagai hubungan fisik komputer  dengan komputer yang lain melalui sebuah media. Fungsi dasar  sebuah  jaringan adalah  agar dapat bertukar sumber daya atau piranti (file, printer , modem, fax, dll)

 

Internet adalah kumpulan komputer yang saling terkoneksi di seluruh dunia yang dapat diakses, yang mengirimkan data dengan menggunakan Protokol Internet.  Berikut ini akan dibahas hanya pengertian, gambaran, sejarah, dan tentang bagaimana

Internet itu bekerja.

Coba bayangkan satu laboratorium komputer yang saling berhubungan melalui jaringan,

jaringan yang sederhana saja dengan Topologi Star Rieut. Sekali lagi, bayangkan, satu jaringan komputer di satu laboraium komputer, disatukan dengan jaringan yang ada di sekolah, terus bersatu lagi dengan sebuah jaringan pendidikan, dan si jaringan pendidikan, yang beranggotakan dari berratus-ratus sekolah, ini merupakan bagian dari jaringan suatu pemerintah. Belum lagi dari sektor lain. Perusahaan, pendidikan, pemerintahan di setiap negara di dunia bersatu padu, jaringannya, membentuk sebuah jaringan yang luas sekali dan dapat diakses secara bebas, ya, tentunya ada beberapa yang tidak bisa di akses secara bebas. Nah jaringan ini yang disebut dengan World Wide Web. Jaringan yang membentuk sesuatu yang kita sebut dengan Internet. Bagaimana jaringan-jaringan ini bisa saling bertukar  informasi? dan bagaimana pula mereka bisa berkomunikasi ?

Nah jawabanya melalui Protokol Internet, sebagaimana protokoler si pak (atau ibu buat yang ibu-ibu) Walikota, yang mengatur jadwal kerjanya dan bagaimana si Walikota bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat, bukan dengan si selamat, Protokol Internet ini pun melakukan hal yang sama. Mengatur dan menentukan.

Selain hubungan secara fisik , komputer di dalam jaringan juga memerlukan sebuah bahasa (protokol) yang sama untuk dapat berkomunikasi dengan baik di dalam suatu jaringan. Internet sebagai jaringan komputer memerlukan protokol untuk berkomunikasi , sedangkan  protokol yang di gunakan dalam jaringan internet yaitu  TCP / IP (Transmission Control Protocol / Internet Protocol) yang di kirim komputer melalui sebuah media pada umumnya line telepone dengan perantara Modem (Modulator Demodelator). Modem berfungsi untuk mengubah signal-signal data digital komputer  ke dalam nada-nada analog yang di kirim dan di terima melalui line telepone sebagai media.

Secara fisik Internet ini dapat  tersambungkan melalui berbagai macam media, contohnya; satelit, kabel fiber-optic, koneksi wireless, dan lain-lain.

 

Sejarah Internet ?

Siapa sebenarnya yang menemukan Internet ?. Sejarahnya agak lucu juga, dari sifat tidak mau kalah manusia, ya untuk masalah  dari sikap tidak mau kalahnya Amerika. Apa hubunganya dengan negara Amerika?

Dahulu kala, ketika Uni Sovyet meluncurkan Sputnik, apa itu  Sputnik? Roket yang berisi manusia pertama di dunia yang berhasil di luncurkan ke luar angkasa. Ketika Sovyet meluncurkan Sputnik,  Amerika jadi gerah, “masa Sovyet bisa kita tidak?!” Mungkin begitu kata Presiden Amerika waktu itu. Tapi yang pasti, Amerika langsung membentuk ARPA (Advanced Research Projects Agency) untuk mengambil alih kepemimpinan teknologi.

Singkat cerita, ARPA membentuk banyak sekali badan atawa cabang, nah salah satunya ialah Information Processing Technology Office (IPTO). Salah satu tugas IPTO adalah membuat sebuah sistem radar otomatis yang saling berhubungan, ceritanya yang pertama di dunia.Nah, pemimpin IPTO, J. C. R. Licklider.

Dari sistem ini, si Licklider menemukan sesuatu, bagaimana jika dibuat sebuah jaringan yang universal yang menyatukan manusia dalam perkembangannya. Akhirnya, Licklider dibantu oleh Lawrence Roberts dengan memanfaatkan teknologi dari Paul Baran, menciptakan dua titik (node) pertama yang disebut dengan ARPANET. Node ?

titik ? apa itu? ialah, satu titik atau satu node, adalah satu komputer. TITIK. ARPANET ini dihubungkan antara UCLA dan SRI International di Menlo Park, California, pada 29 Oktober 1969. Nah, ARPANET ini lah dapat dikatakan biangnya si Internet. Karena kemudian ide ini ditiru dan dikembangkan lebih lanjut oleh banyak pihak.

Dan pada 1 Januari 1983 sampe sekarang protokol standar dalam Internet, terlepas dari Sistem Operasi apa yang digunakan, adalah TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

Bagaimana komputer bisa saling berhubungan tapi tidak pernah salah sasaran? IP Address adalah jawabanya. Apa itu? Yang pasti si IP Address ini memiliki beberapa jenis yang disebut dengan kelas, kelas A, B, C, D dan E. Sebagai contoh, berikut adalah salah satu IP Addrtess kelas C. 192.168.2.1

Dengan perincian sebagai berikut :

NETWORK ID : 192.168.2

HOST ID : 1

Apa maksudnya? Sebagai gambaran, Network Id, diibaratkan 192 adalah kelurahan, 168 adalah RW, dan 2 adalah RT. Ada satu surat beralamatkan 192.168.2.1, nah si tukang pos pasti membawa surat itu ke tempat yang dituju, yaitu 192.168.2 itu tadi. Lalu apakah si 1 yang terakhir. Begini, ketika si tukang pos nyampe di depan rumah dan mencari si 1, ternyata di rumah itu banyak penghuninya, ya, di ibaratkan ada si 1, si 2, si 3 dan si 4. Nah sudah pasti kan si surat itu diberikan kepada si 1.

 

  1. Belajar Melalui Jaringan Maya

Dengan adanya perkembangan dan pemanfaatan IT Guru bukanlah merupakan satu-satunya sumber belajar, namun merupakan salah satu komponen dari sumber belajar yang disebut orang. AECT (Associationfor Educational Communication and Technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu: Pesan; didalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran.

  1.  
    1. Orang; didalamnya mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan sebagainya.
    2. Bahan;merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran,seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, OHT (over head transparency), program slide,alat peraga dan sebagainya (biasa disebut software).
    3. Alat; yang dimaksud di sini adalah sarana (piranti, hardware) untuk menyajikan bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup proyektor OHP, slide, film tape recorder, LCD , Komputer ’ jaringan dan sebagainya.
    4. Teknik; yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam membeikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah,permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama (roleplay), dan sebagainya.
    5. Latar (setting) atau lingkungan; termasuk didalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, dan sebagainya.

Ada tiga bentuk sistem pembelajaran melalui Internet yang layak dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem pembelajaran (Haughey, 1998) adalah:
1. Web Course.

Web Course, ialah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran, di mana seluruh bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya isampaikan melalui internet. Siswa dan guru sepenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat. Komunikasi lebih banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous. Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian, karena semua proses belajar mengajar sepenuhnya dilakukan melalui penggunaan fasilitas internet seperti e-mail, chat rooms, bulletin board dan online conference.
Bentuk pembelajaran model ini biasanya dipergunakan untuk keperluan pendidikan ajarak jauh (distance education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain virtual campus/university, ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian akan diberikan sertifikat.
2. Web Centric Course.

Web Centric Course, di mana sebagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan disampaikan melalui internet, sedangkan ujian dan sebagian konsultasi, diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka. Walaupun dalam proses belajarnya sebagian dilakukan dengan tatap muka yang biasanya berupa tutorial, tetapi prosentase tatap muka tetap lebih kecil dibandingkan dengan prosentase proses belajar melalui internet.
Penerapan bentuk ini sebagaimana yang dilakukan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang menyiapkan sistem belajar secara off campus.
3. Web Enhanced Course.

Web Enhanced Course, yaitu pemanfaatan internet untuk pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama Web lite course, karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.
Peranan internet di sini adalah untuk menyediakan sumber-sumber yang sangat kaya dengan memberikan alamat-alamat atau membuat hubungan (link) ke berbagai sumber belajar yang sesuai yang bisa diakses secara online, untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dengan peserta didik secara timbal balik. Dialog atau komunikasi tersebut adalah untuk keperluan berdiskusi, berkonsultasi, maupun untuk bekerja secara kelompok. Komunikasi timbal balik bisa dilakukan antara siswa dengan siswa, siswa dengan teman di luar kelas/sekolah, siswa dengan kelompok, siswa dengan guru maupun guru dengan siswa atau dengan kelompok. Bentuk ini bisa pula dikatakan sebagai langkah awal bagi institusi pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran berbasis internet, sebelum menyelenggarakan pembelajaran dengan internet secara lebih kompleks, seperti Web Centric Course ataupun Web course.


C. Manfa’at dan Mudharat.

Pesatnya perkembangan IT khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang yang lebih baik dalam suatu instusi pendidikan. Di lingkungan perguruan tinggi, pemamfaatan IT lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu sistem yang di sebut Electronic University (E-University). Pengembangan E-University bertujuan untuk mendukung penyelengaraan pendidikan sehingga perguruan tinggi menyediakan layanan informasi yang lebih baik kepada komunitas, baik di dalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakanan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan. IT sebagai media pembelajaran multi media misalnya kerjasama antar pakar dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan. Seorang mahasiswa bisa mendiskusikan dengan pakar dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan tukar menukar data melalui internet, via email atau dengan menggunakan makanisme fail sharing dan mailing list. Kemudian manfaat lainnya di bidang pendidikan adalah :

1. Akses ke perpustakaan.,

2. akses ke pakar.,

3. melaksanakan kegiatan kuliah secara online.,

4. menyediakan layanan informasi akedemik suatu institusi pendidikan.,

5. menyediakan fasilitas mesin pencari data,.

6. menyediakan fasilitas diskusi.,

7. menyediakan fasilitas derektori alumni dan sekolah.,

8. menyediakan fasilitas kerjasama dan lain-lain.

Sedangkan dampak negatifnya dalam perkembangan IT (Belajar melalui jaringan maya ) bergesernya nilai-nilai budaya, moral dan etika, serta ideologi yang dianut apabila informasi yang diakses disalah gunakan.

Dampak negatif yang sangat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya adalah anatara lain :

        Maraknya pornografi dalam berbagai wujudnya

        Perjudian di dunia maya

        Sikap hedonisme

        Dan kebebasan tanpa batas, dan sulit, bahkan tidak mungkin dibatasi


D. PENUTUP

a. Simpulan

Perkembangan teknologi informasi Indonesia sangat dipengaruhi kemampuan sumber daya manusia dalam memahami teknologi informasi, banyak mamfaat yang kita peroleh melalui pembelajaran jaringan maya contohnya dalam dunia pendidikan, perbankan, bisnis dan pemerintahan. Di era globalisasi ini mau tidak mau kita harus menguasai teknologi komunikasi dan informasi dalam pendidikan.

b. Saran

            Sehubungan dengan kemajuan  teknologi komunikasi dan informasi yang sedemikian pesat maka dunia pendidikan ikut merasakan dan menikmati hikmah tersebut. Namun juga perlu disadari bahwa kemajuan tersebut juga merupakan buah dari pendidikan. Untuk itu penulis menyarankan terhadap tiga lingkungan pendidikan yaitu forma, nonformal dan informal lebih intens untuk memanfaatkan jaringan maya secara optimal dalam pembelajaran sepanjang hayat. Mengingat dibalik manfaat terdapat pula kuburukan atau sisi negatifnya maka siapapun perlu membekali diri dengan iman dan takwa sesuai keyakinannya, agar dapat memperkecil bahkan menolak pengaruh negati tersebut. Selamat belajar di jaringan maya.

 

DAFTAR PUSTAKA

1. http://bigayah.multiply.com/journal/item/60

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia

3. http://www.mail-archive.com/rantau-net@rantaunet.com/msg14354.html

4.http://aristorahadi.wordpress.com/2008/01/11/belajar-pembelajaran-dan-sumber-belajar/

5. http://ekanofianasari.files.wordpress.com/2007/09/latihan-1.doc

6. http://sman15bdg.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=72

 

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

jepang tidak peduli protes cina atas senkaku

Juni 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beijing, Sinar Harapan
Pemerintah Jepang menegaskan bahwa Kepulauan Senkaku merupakan bagian dari wilayah teritorial Jepang dan klaim Cina atas wilayah tersebut tidak berdasar. Maka Jepang tidak peduli atas protes Cina mengenai klaim pulau tersebut.
Demikian tanggapan Duta Besar Jepang untuk Cina, Koreshige Anami. Ini berkaitan dengan protes yang dilayangkan oleh Kementerian Luar Negeri Cina pada Minggu lalu (5/1).
Protes tersebut menyangkut soal langkah Jepang menyewa tiga pulau yang
diperselisihkan dari seorang pemilik pribadi, dengan menyebut tindakan itu tidak sah dan tak dapat diterima. Demikian menurut kantor berita resmi Xinhua.
Ketiga pulau kecil yang tak didiami di lepas pantai barat daya Cina itu termasuk di antara serangkaian lima pulau yang diklaim oleh Cina, Jepang dan Taiwan dalam satu perselisihan wilayah yang telah lama berlangsung.
Dalam pembicaraan telepon Wakil Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, mendesak Anami untuk menyampaikan protes dari Bejing kepada Tokyo agar pemerintah Jepang mengoreksi kembali tindakannya itu. Wang merasa tindakan sepihak Jepang mengenai penyewaan Kepulauan Diauyu, begitu Beijing menyebut Senkaku, merupakan tindakan ilegal dan tidak dapat diterima. Wang juga mengatakan kepada Anami bahwa pencabutan tindakan Tokyo tersebut merupakan langkah penting dalam memelihara hubungan bilateral.
”Setiap aksi sepihak atas pulau-pulau itu oleh pihak Jepang adalah ilegal dan tidak sah, yang tidak akan diterima oleh Cina,” kata Wang.
”Pemerintah dan rakyat Cina memiliki kebulatan hati yang teguh untuk melindungi kedaulatan wilayah negara ini,” katanya lebih lanjut.
Namun Anami tidak mau meneruskan protes tersebut ke Tokyo karena merasa Senkaku jelas-jelas dimiliki Jepang.
Menurut harian Japan Times, pemerintah Jepang Oktober tahun lalu diketahui telah menyewa tiga pulau dari Kepulauan Senkaku selama satu tahun secara retroaktif sejak 1 April 2002. Tiga pulau tersebut yaitu Uotsurishima, Minami-Kojima dan Kita-Kojima.
Pulau-pulau tak berpenghuni tersebut dimiliki oleh seorang warga negara Jepang.
Sumber-sumber mengatakan bahwa pemerintah bermaksud memperbaharui kontrak sewa sebesar 22 juta yen pada tahun ini.
Langkah tersebut mengundang protes dari Cina.
Kepulauan Senkaku terletak di sebelah timur laut Cina atau terletak di antara Taiwan dan Okinawa. Cina menamai kepulauan tersebut Diaoyu sedangkan Taiwan menamainya dengan Tiaoyutai
Jepang mengklaim kepulauan tersebut pada tahun 1895 dan sempat dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS) pasca-PD II.
Senkaku kemudian dikembalikan kepada Jepang pada tahun 1972 bersamaan dengan pengembalian Okinawa oleh AS.
Sedangkan juru bicara kementerian luar negeri Zhang Qiyue awal pekan lalu menyatakan bahwa pulau-pulau itu milik Cina sejak zaman purbakala.
Penyewaan pulau-pulau itu oleh Jepang mungkin dapat mencegah pemiliknya menjual rangkaian pulau tersebut.
Cina menyerahkan ketiga pulau yang memiliki akses ke dasar penangkapan ikan yang kaya dan mungkin simpanan minyak itu kepada Jepang bersama dengan Taiwan pada 1985. Cina dan Taiwan mengklaim kepemilikan pulau itu sejak 1970-an, kata surat kabar berbahasaJepang itu.
Perselisihan itu merebak pada 1996 ketika tokoh sayap kanan Jepang membuat geram kalangan nasionalis Cina dengan membangun mercu suar pengganti di salah satu dari ketiga pulau tersebut untuk memperkuat klaim Jepang. (jt/ren)

 

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

kol mini

Juni 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah lama bahasa Indonesia kita rusak. Juga bahasa di kalangan penggemar makan sayur. Mengapa labu kecil disebut labu mini? Bukan labu kerdil? Mengapa pula buncis muda disebut bebi (baby) buncis? Bukan buncis bayi? Ternyata mereka mempunyai alasan, untuk bertahan memakai istilah yang merusak bahasa Indonesia itu.

 

 

     Sayuran mini itu memang bukan sekadar kecil. Kol bunga dan brokoli yang biasanya sebesar kobokan, tumbuh hanya semini bola pingpong. Labu yang biasanya sebesar bola basket, tumbuh hanya semungil bola golf.

     Orang yang boleh dikatakan pelopor penanaman sayuran mini ialah Joe Chetcuti, seorang penduduk Australia keturunan emigran asal Malta, yang kini tinggal di Sydney. Bersama istrinya, Carmen, ia menanam sayuran itu sebagai hobi.

Kecil itu memang indah

     Ia tertantang untuk menciptakan sayuran mini, karena di pasaran beredar sayuran kecil yang dipromosikan penjualnya sebagai sayuran eksklusif dengan dalih “kecil itu indah”. Tapi kecilnya tidak kecil-kecil amat. Terciptanya hanya karena sayuran itu dipungut muda, ketika masih bayi. Joe menciptakan sayuran yang benar-benar miniatur yang bukannya dipungut muda, tetapi sudah dewasa dan benar-benar memang sudah waktunya dipanen.

     Ketika hasil main-mainnya diketahui oleh kakak iparnya yang mantan manajer pemasok sayuran Hotel Sydney Renaissance, berubahlah hobi Joe menjadi bisnis. Kakak ipar ini melihat peluang yang bagus, dan menjual sayuran mini itu ke hotel berbintang yang biasa ditiduri raja-raja (seperti raja minyak, raja rokok, raja serai).

     Belakangan sayuran itu juga dijual kepada para pengusaha catering pesawat terbang, yang biasa ditumpangi para ratu, seperti ratu kecantikan, ratu anggur, ratu kesemek.

     Menurut mereka, menyantap sayuran mini merupakan sensasi yang tak ada duanya. Itu berbeda dengan makan sayuran biasa yang dipotong-potong menjadi kecil, tapi karena amburadul terus dipatut-patut di atas piring. Sayuran mini tidak begitu! Tanpa diapa-apakan sudah pantas dan menarik untuk disantap para raja dan ratu.

     Karena laku keras, banyak pengusaha hasil pertanian yang kemudian menciptakan sayuran kecil, tiruan sayuran mini. Menurut mereka, mereka tidak meniru. Justru sayuran mini ala Chetcuti itu yang meniru gagasan untuk membuat sayuran kecil.

 

 

     Sudah sejak dulu, di antara sayuran biasa yang besar, ada yang kecil karena umurnya masih muda ketika rekan-rekannya dipanen. Sayuran muda semacam ini dianggap sebagai sayuran sisa panen. Tetapi kini zaman sudah berubah. Sayuran muda malah diciptakan dengan sengaja sebagai sayuran baby yang eksklusif. Ada baby corn, baby bean, dan baby carrot, tetapi di Indonesia juga ada bebi kailan, bebi kapri, bebi kubis, dan bebi caisim.

      Hanya beberapa jenis sayuran tertentu yang tetap mempertahankan nama nasionalnya. Misalnya mentimun acar yang panjangnya hanya 5 - 8 cm dan cukup pendek untuk dimasukkan ke dalam botol selai. Sudah sejak dulu, kita suka makan acar mentimun yang kecil ini, karena selain menambah selera makan, juga mampu membuat kulit muka kita jadi nyus-nyus halusnya.

     Begitu juga terong gelatik untuk dilalap. Ukurannya cuma sebesar gundu, tapi larisnya melebihi terong biasa. Karena yang makan kebanyakan orang daerah country, maka terong itu tidak masuk ke pasar swalayan metro, sehingga tidak ada yang menyebutnya bebi terong.

Merusak kromosom

     Sayuran mini (kerdil) jelas bukan sayuran bebi (bayi). Cara menghasilkannya dirahasiakan betul oleh Joe dan Carmen. Apa yang tersebar sebagai berita koran hanya dugaan spekulatif bahwa biji sayuran yang akan ditanam itu sebelumnya sudah dirusak kromosomnya yang bercokol dalam inti sel. Setiap sel tanaman mengandung sejumlah kromosom tertentu, bergantung pada jenis tanamannya. Kalau dirusak, sehingga jumlahnya berkurang, dan yang berkurang itu pas kromosom yang mengandung gen, potongan DNA (deoxyribonucleic acid) pengatur pertumbuhan, maka tanaman itu tidak mendapat petunjuk yang berwajib untuk tumbuh. Pertumbuhannya terhambat, alias tumbuh kerdil.

 

 

     Perusakan kromosom dilakukan dengan sinar gamma yang ditembakkan ke biji. Joe menerapkan hasil riset miniaturisasi tanaman oleh para pakar hortikultura di ladang pertaniannya dekat Sydney.

     Penyinaran semacam itu sebenarnya sudah lama kita kenal. Di kalangan kedokteran, pasien penderita tumor yang masih kecil, kadang cukup ditembak di tempat dengan sinar gamma saja. Tumornya tidak jadi tumbuh, dan pasien dinyatakan sembuh.

     Bagaimana prosedur penyinaran biji yang akan dirusak kromosomnya dalam inti sel itu yang persis, dijaga benar rahasianya oleh Joe dan Carmen Chetcuti.

     Kecuali ukurannya yang mini, sayuran mereka tidak ada apa-apanya yang aneh. Baik rasa, bentuk, dan penampilannya sama saja dengan sayuran biasa. Tetapi jelas, waktu yang diperlukan untuk memasaknya lebih cepat.

     ”Kami tidak memakai bahan kimia sama sekali untuk mengerdilkan sayuran ini,” jelas Joe kepada wartawan Australia Now. Karena itu, ia menganggap sayuran mininya lebih sehat daripada sayuran biasa yang disemproti racun serangga. Selain bebas racun, sayuran mininya juga masih utuh vitaminnya, karena tidak perlu dikupas tapi disantap utuh. Sayuran itu cukup di-steam (ditanak dengan uap seperti kita menanak nasi dalam dandang soblukan), dan langsung dimakan. Tidak perlu dibumbui bermacam-macam, karena tanpa bumbu pun rasanya sudah enak. Aromanya tercium jelas, lebih sedap daripada sayuran biasa.

     ”Hanya satu keburukannya!” tutur Hans Zurche, seorang chief executive maskapai penerbangan Qantas yang melanggan sayuran Joe Chetcuti, “Sayuran itu mahal banget! Lebih mahal daripada sayuran bebi. Apalagi sayuran biasa.”

Bebi tidak sama dengan mini

     Dalam kurun waktu yang sama, masyarakat Australia, Singapura, dan Jakarta juga dilanda kegemaran menyantap sayuran kecil yang tidak mereka sebut mini, tapi bebi. Cara pembuatannya memang berbeda sama sekali.

     Baby corn yang tidak lain cuma jagung semi, atau jagung putri, dibuat dari jagung hibrida biasa, tetapi setelah berbunga sengaja dibuang setiap bunga jantannya yang muncul. Akibatnya, pembentukan tongkol jagung dipercepat. Kalau kemudian dipungut, jelas masih muda, tapi lakulah ia sebagai baby corn (tidak lazim disebut bebi jagung). Jagung bayi ini biasanya dipakai sebagai tukang ramai-ramai dalam capcai.

 

 

     Kailan juga diusahakan bayinya. Tanaman yang masih berkerabat dekat dengan kubis ini tidak dapat membentuk krop (kepala) karena daunnya tidak berkumpul rapat padat di puncak batang seperti kubis kepala, tapi melambai-lambai bebas dengan tangkai daun yang panjang-panjang, jelek sekali. Walaupun begitu, orang gemar makan kailan karena tangkai daunnya yang sudah dipotong-potong dalam masakan cina terasa lembut teksturnya, renyah tapi empuk, dan agak manis. Kini, kecenderungan konsumen bukannya makan tangkai kailan yang besar-besar biasa, tapi yang kecil mungil. Maka muncullah bebi kailan di pasar yang laku keras.

     Bebi kailan ditanam seperti kailan biasa, tetapi bedeng penanamannya dinaungi tenda plastik. Tanaman jadi bersih dan utuh. Batang dan tangkai daunnya tumbuh panjang-panjang dan lunak. Tapi panjang keseluruhan tanaman ketika dipanen hanya 10 - 15 cm.

     Panennya tidak menunggu sampai semuanya sudah besar, melainkan dengan mencicil sepanjang masa mudanya. Karena ditanam rapat sekali (10 cm dalam barisan), mereka kemudian diperjarang agar tidak berdesak-desakan, dengan jalan dicabuti tanamannya yang tumbuh lebih cepat daripada tetangga-tetangganya. Kira-kira satu bulan sesudah biji ditanam. Masih muda memang, tapi ya itulah bebi kailan.

     Dua puluh hari kemudian barisan kailan dipanen lagi, dan seterusnya seminggu sekali, dengan dipilihi yang besar-besar di antara yang masih kecil ketinggalan kereta. Semuanya akan habis dicabut dalam waktu 7 bulan, dan selalu tanaman yang ketinggalan tumbuh yang dipungut.

Toge kapri

     Sayuran bayi yang lebih unik ialah bebi kapri. Bukan kapri buah polong biasa yang kita kenal itu, tetapi kapri varietas baru dari Selandia Baru. Bijinya dikecambahkan seperti biji kacang hijau yang akan dibuat taoge. Memang bebi kapri ini tidak lain hanya taoge kapri, tapi kalau diedarkan sebagai taoge, mungkin ia tidak laku keras seperti bebi kapri.

     Bijinya juga direndam dalam air dulu selama satu jam seperti biji kacang hijau, sebelum disemaikan di atas tanah bedeng pesemaian setinggi 20 cm. Lalu ditutup dengan karung yang sudah didendeng, supaya seragam berkecambahnya. Ketika biji mulai berkecambah, karung penutupnya dibuang untuk diganti dengan naungan tenda plastik setinggi 60 cm.

     Hanya 10 hari sejak disemaikan, bebi kapri sudah boleh dipanen, berupa seluruh kecambah yang ada daun, batang, akar, berikut keping bijinya yang masih menyisa. Bagian yang dapat disantap ialah batangnya yang berdaun, mulai dari pangkal akar. Di restoran elite Singapura dan Hongkong, sayuran ini dihidangkan sebagai pelengkap masakan Cina yang enak sekali, dan populer sebagai tau miau. Di Indonesia, daun itu hanya dipakai sebagai lalap rebus.

     Kalau yang akan dimasak hanya daunnya, mengapa akar dan sisa keping bijinya disertakan ketika dikemas untuk dijual kepada konsumen? Tak lain untuk mencegah jangan sampai keburu layu, kalau dijajakan dalam lemari pajangan pasar swalayan. Begitu daun mulai layu, kantung plastik kemasan bebi itu dicelup ke dalam air dingin. Melalui lubang-lubang yang sengaja dibuat pada kantung kemasannya, air meresap ke akar kapri, dan daun tampak segar kembali.

Bebi buncis dan ceriwis

     Bayi buncis lain lagi proses kelahirannya. Kalau buncis biasa disuruh memanjat batang rambatan, bayi buncis tidak. Buncis ini memang varietas berbatang tegak yang tidak mau memanjat. Di Amerika dan Australia dipakai varietas baby bean, tetapi para petani sayuran Eropa di daerah pegunungan kita memakai bibit varietas buncis biasa dari Taiwan.

     Sedianya tanaman ini juga akan tumbuh sebagai buncis biasa, tetapi ia sudah dipungut muda, seminggu setelah berbunga. Jadi buah buncisnya masih kecil, dengan garis tengah hanya 1 cm. Karena masih sangat muda, rasanya masih lembut empuk, dan manis. Cocok sekali sebagai pengiring steak (di beberapa restoran Jakarta ditulis steik, tetapi dibunyikan stik).

 

 

     Ini jelas bukan baby bean seperti yang beredar di Amerika dan Australia, tetapi kita memang tidak berada di sana, melainkan di metro Jakarta Raya. Buncis aspal itu juga tidak dipromosikan sebagai baby bean, tetapi bebi buncis.

     Karena masyarakat sedang tergila-gila membeli bebi sayuran, maka kubis anakan pun diusahakan sebagai penggembira pasar bayi. Dulu anakan kubis yang bertunas sesudah kubis yang besar dipanen, dan batangnya tidak ditebang tapi dibiarkan tumbuh terus, hanya dikumpulkan oleh para pedagang sayur sebagai “barang sisa”. Tunas kubis ini hanya sekepal tangan anak yang kekurangan gizi, dan beredar di pasar sebagai ceriwis. Kelahirannya tidak dikehendaki amat. Batang kubis yang dibiarkan tumbuh terus setelah kubis kepala besarnya dipanen itu gara-gara petani belum mempunyai waktu, tenaga dan modal untuk membersihkan dan menyiapkan lahan untuk penanaman sayuran berikutnya. Sambil menunggu ini, kubisnya ternyata bertunas menjadi ceriwis. Sayang, tidak setiap jenis kubis dapat menghasilkan tunas ceriwis itu. Hanya kubis kepala bulat (atau kol bulat) yang dapat bertunas bagus. Padahal kol ini jarang ditanam petani, yang lebih banyak menanam kubis kepala gepeng. Tunas si gepeng ini kecil-kecil, dan tidak patut untuk dipungut.

     Kini, permintaan pasar akan kubis mini makin santer, dan beberapa pengusaha kubis di luar para petani di atas mengusahakan tunas kubis itu dengan sengaja, sebagai hasil sampingan dari penanaman kubis kepala bulat.

     Di samping kubis ceriwis ini, pasar juga sudah lama dilanda kol brussel sebesar bola pingpong. Tetapi ini jelas bukan bebi kubis, melainkan kol brussel yang memang dari sononya sudah kerdil. (Slamet Soeseno)

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

kiat mengatasi kenakalan remaja

Juni 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

oleh:

abdul malik

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

PEMBAHASAN

Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu, peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak – in loco parentis – yang memutuskan perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 sampai dengan 18 tahun.

Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:

  1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
    Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di
    kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: “Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama”. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.

    Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.

    Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita.

    Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.

 

  1. PENDIDIKAN
    Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.

    Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.

 

  1. PENGGUNAAN WAKTU LUANG
    Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya

    hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.

     

    Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada

    kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.

     

    Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain sebagainya.

 

  1. UANG SAKU
    Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.

    Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:

    1. Anak menjadi boros
    2. Anak tidak menghargai uang, dan
    3. Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.

 

  1. PERILAKU SEKSUAL
    Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan.
    Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.

    Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.

    Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

KIAT POKOK MENGATASI KENAKALAN REMAJA

Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan yang singkat, padat, dan mudah diingat serta mudah dilaksanakan. Pedoman ini telah diberikan oleh Sang Buddha dalam Kitab Suci Tipitaka, Anguttara Nikaya I, 51.

Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan pihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya.

Inti pendidikan ini terdiri dari dua hal yaitu :

  • HIRI = MALU BERBUAT JAHAT
    Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan hiri atau rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat.Dalam memberikan pendidikan, orangtua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dan akibat dari perbuatan baik dan tidak baik atau perbuatan benar dan tidak benar. Kejelasan orangtua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini. Semakin awal semakin baik.

    Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru perilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Gunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran. Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.

    Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat lingkungan. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orangtua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orangtua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orangtua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan. Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orangtua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.

 

  • OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT
    Apabila anak bertambah besar, orangtua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat meningkatkannya dengan memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian terangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orangtua, keluarganya serta lingkungannya. Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain. Artinya, apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk, dalam hal ini, manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba waktunya nanti, kamma buruk berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.

Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi ‘pengawas setia’ dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, ‘pengawas’ ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun anak pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orangtua dan juga lingkungannya. Orangtua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang beranjak remaja. Orangtua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat dinikmati hasilnya di hari tua.

Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, dengan memberikan pengertian yang baik tentang inti pendidikan tersebut kepada anak-anak, diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG

Juni 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh:

Abdul  Malik

 

Abstrak

 

Masalah sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya adalah kenakalan remaja. Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan remaja dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual, individu sebagai  satuan pengamatan sekaligus sumber masalah. Untuk  pendekatan sistem, individu sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem sebagai sumber masalah. Berdasarkan  penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa ternyata ada hubungan negative antara kenakalan remaja dengan keberfungsian keluarga. Artinya semakin meningkatnya keberfungsian sosial  sebuah keluarga dalam melaksanakan tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya maka akan semakin rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalannya semakin rendah. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang.

 

 

I.                                PENDAHULUAN

 

Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.  Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui  jalur tersebut berarti telah menyimpang.

 

Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Becker (dalam Soerjono Soekanto,1988,26), mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang.                                                                

Masalah sosial perilaku menyimpang dalam tulisan tentang “Kenakalan Remaja” bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman , 1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan belajar sosial atau “kesalahan” dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal.

 

Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Oleh sebab itu, kondisi kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang diserap. Salah satu variasi dari teori yang menjelaskan kriminalitas di daerah perkotaan, bahwa beberapa tempat di kota mempunyai sifat yang kondusif bagi tindakan kriminal oleh karena lokasi tersebut mempunyai karakteristik tertentu, misalnya (Eitzen, 1986 : 400), mengatakan tingkat kriminalitas yang tinggi dalam masyarakat kota pada umumnya berada pada bagian wilayah kota yang miskin, dampak kondisi perumahan di bawah standar, overcrowding, derajat kesehatan rendah dari kondisi serta komposisi penduduk yang tidak stabil. Penelitian inipun dilakukan di daerah pinggiran kota yaitu di Pondok Pinang Jakarta Selatan tampak ciri-ciri seperti disebutkan Eitzen diatas. Sutherland dalam (Eitzen,1986) beranggapan bahwa seorang belajar untuk menjadi kriminal melalui interaksi. Apabila lingkungan interaksi cenderung devian, maka seseorang akan mempunyai kemungkinan besar untuk belajar tentang teknik dan nilai-nilai devian yang pada gilirannya akan memungkinkan untuk menumbuhkan  tindakan kriminal.

 

Mengenai pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. Dikatakan oleh (Eitzen, 1986:10) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.

 

 

II.      TUJUAN PENELITIAN

 

1. Mengidentifkasi dan memberikan gambaran bentuk-bentuk kenakalan yang dilakukan remaja di pinggiran kota metropolitan Jakarta, yaitu di kelurahan

       Pondok Pinang.

2.   Untuk mengetahui hubungaanan aaantara kenakalan remaja dengan keberfungsian sosial keluarga

 3.  Penelitian ini ingin memberikan sumbangan bagi pemecahan masalah kenakalan   remaja dengan memanfaatkan keluarga sebagai basis dalam pemecahan masalah.

  

III.    METODE PENELITIAN

 

Metode  yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ingin mempelajari masalah-masalah dalam suatu masyarakat, juga hubungan antar fenomena, dan membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian yang ada.

 

Cara pemilihan sampel yang dilakukan pertama memilih wilayah yang mempunyai kategori miskin, dengan cara melihat kondisi mereka yang perumahannya di bawah standar, dengan kondisi penduduk yang sangat padat, lingkungan yang tidak teratur dan perkiraan tingkat kesehatan masyarakatnya yang buruk. Setelah itu konsultasi dengan ketua RW dan ketua-ketua RT untuk mencari informasi tentang warganya yang dianggap telah melakukan kenakalan, dengan perspektif labeling. Dari informasi tersebut data pada tiga RT. Berdasarkan data tersebut kita jadikan populasi dengan jumlah 40 remaja dan keluarga yang akan dijadikan unit dalam analisis. Dari jumlah tersebut dibuat listing dan tiap RT diambil 10 sampel (remaja dan keluarga) sehingga mendapat 30 responden. Pengambilan sample ini dengan cara random.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dipandu dengan daftar pertanyaan.

 

Responden remaja dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia 13 tahun-21 tahun. Mengingat pengertian anak dalam Undang-undang no 4 tahun 1979 anak adalah mereka yang berumur sampai 21 tahun. Dengan pertimbangan pada usia tersebut, terdapat berbagai masalah dan krisis diantaranya; krisis identitas, kecanduan narkotik, kenakalan, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah, konflik mental dan terlibat kejahatan (lihat transaksi individu-individu dan keluarga-keluarga dengan sistem kesejahteraan sosial).

 

IV.   KERANGKA KONSEP

 

  1. Konsep Kenakalan Remaja

 

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.                                              

Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.

 

Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial  yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.

 

  1. Keberfungsian sosial

 

Istilah keberfungsian sosial mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh individu akan kolektivitas seperti keluarga dalam bertingkah laku agar dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupannya serta dapat memenuhi kebutuhannya. Juga dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan pokok bagi penampilan beberapa peranan sosial tertentu yang harus dilaksanakan oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari keanggotaannya dalam masyarakat. Penampilan dianggap efektif diantarannya jika suatu keluarga mampu melaksanakan tugas-tugasnya, menurut (Achlis, 1992) keberfungsian sosial adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan peranannya selama berinteraksi dalam situasi social tertentu berupa adanya rintangan dan hambatan dalam mewujudkan nilai dirinnya mencapai kebutuhan hidupnya.

 

Keberfungsian sosial kelurga mengandung pengertian pertukaran dan kesinambungan, serta adaptasi resprokal antara keluarga dengan anggotannya, dengan lingkungannya, dan dengan tetangganya dll. Kemampuan berfungsi social secara positif dan adaptif bagi sebuah keluarga salah satunnya jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan dan fungsinya terutama dalam sosialisasi terhadap anggota keluarganya.

 

                                                             

V.     HASIL PENELITAN

 

A.                                                           Bentuk Kenakalan Yang Dilakukan Responden

 

Berdasarkan data di lapangan dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan remaja sebagai salah satu perilaku menyimpang hubungannya dengan keberfungsian sosial keluarga di Pondok Pinang pinggiran kota metropolitan Jakarta. Adapun ukuran yang digunakan untuk mengetahui kenakalan seperti yang disebutkan dalam kerangka konsep yaitu (1) kenakalan biasa  (2) Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan dan (3) Kenakalan Khusus. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 responden, dengan jenis kelamin laki-laki 27 responden, dan perempuan 3 responden. Mereka berumur antara 13 tahun-21 tahun. Terbanyak mereka yang berumur antara 18 tahun-21 tahun.

 

 

Bentuk Kenakalan Remaja Yang Dilakukan Responden (n=30)

 

Bentuk Kenakalan

 

f

%

1.      Berbohong

2.      Pergi keluar rumah tanpa pamit

3.      Keluyuran

4.      Begadang

5.      membolos sekolah

6.      Berkelahi dengan teman

7.      Berkelahi antar sekolah

8.      Buang sampah sembarangan

9.      membaca buku porno

10. melihat gambar porno

11. menontin film porno

12. Mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM

13. Kebut-kebutan/mengebut

14. Minum-minuman keras

15. Kumpul kebo

16. Hubungan sex diluar nikah

17. Mencuri

18. Mencopet

19. Menodong

20. Menggugurkan Kandungan

21. Memperkosa

22. Berjudi

23. Menyalahgunakan narkotika

24. Membunuh

 

30

30

28

26

7

17

2

10

5

7

5

21

19

25

5

12

14

8

3

2

1

10

22

1

100

100

93,3

98,7

23,3

56,7

6,7

33,3

16,7

23,3

16,7

70,0

63,3

83,3

16,7

40,0

46,7

26,7

10,0

6,7

3,3

33,3

73,3

3,3

 

                                          

Bahwa seluruh responden pernah melakukan kenakalan, terutama pada tingkat kenakalan biasa seperti berbohong, pergi ke luar rumah tanpa pamit pada orang tuanya, keluyuran, berkelahi dengan teman, membuang sampah sembarangan dan jenis kenakalan biasa lainnya. Pada tingkat kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai kendaraan tanpa SIM, kebut-kebutan, mencuri,minum-minuman keras, juga cukup banyak dilakukan oleh responden. Bahkan pada kenakalan khususpun banyak dilakukan oleh responden seperti hubungan seks di luar nikah, menyalahgunakan narkotika, kasus pembunuhan, pemerkosaan, serta menggugurkan kandungan walaupun kecil persentasenya. Terdapat cukup banyak dari mereka yangkumpul kebo. Keadaan yang demikian cukup memprihatinkan. Kalau hal ini tidak segera ditanggulangi akan membahayakan baik bagi pelaku, keluarga, maupun masyarakat. Karena dapat menimbulkan masalah sosial di kemudian hari yang semakin kompleks.  

 

B. Hubungan Antara Variabel Independen dan Dependen

 

  1.  
    1. Hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan

 

Salah satu hubungan variabel yang disajikan disini adalah hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan. Hal ini untuk mengetahui apakah anak laki-laki lebih nakal dari anak perempuan atau probalitasnya sama. Berdasarkan tabel hubungan diperoleh data sebagai berikut; Anak laki-laki yang melakukan kenakalan biasa 3 responden (10%), kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan  2 responden, dan kenakalan khusus 22   responden (73,3%). Sedangkan anak perempuan yang melakukan kenakalan biasa 2 responden (2,7%) dan kenakalan khusus 1 responden (3,3%). Kenyataan tersebut menunjukkan  bahwa sebagian besar yang melakukan kenakalan khusus  adalah anak laki-laki (73,3%), namun terdapat juga anak perempuannya. Kalau dibandingkan diantara 27 responden anak laki-laki 22 responden (81,5%) diantaranya melakukan kenakalan khusus, sedangkan dari 3 responden perempuan 1 responden  (33,3%) yang melakukan kenakalan khusus, berarti probababilitas anak laki-laki lebih besar kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Demikian juga yang melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan,  anak perempuan tidak ada yang melakukannya. Dengan demikian maka anak laki-laki kecenderungannya akan melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan lebih dibandingkan dengan anak perempuan.

 

  1.  
    1. Hubungan antara pekerjaan responden dengan tingkat kenakalan yang dilakukan

Berdasarkan data yang ada, pekerjaan responden adalah sebagai pelajar dan  tidak bekerja (menganggur) masing-masing 13 responden (43,3%), sebagai buruh dan berdagang  masing-masing 2 responden (6,7%). Dari tabel  korelasi persebaran datanya sebagai berikut; Pelajar yang melakukan kenakalan biasa 5 responden (16,7%), kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan 2 responden (6,7%),  dan kenakalan khusus 6 responden (20%) . Sedangkan mereka yang tidak bekerja (menganggur) semuanya 13 responden melakukan kenakalan khusus, juga mereka yang bekerja sebagai pedagang dan buruh semuanya melakukan kenakalan khusus. Dari  data tersebut dapat disimpulkan bahwa kecenderungan untuk melakukan kenakalan khusus ataupun jenis kenakalan lainnya adalah mereka yang tidak sibuk, atau banyak waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif.

 

2.      Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan

 

Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin rendah  melakukan kenakalan. Sebab dengan pendidikan yang semakin tinggi, nalarnya semakin baik. Artinya mereka tahu aturan-aturan ataupun norma sosial mana yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Atau mereka tahu rambu-rambu mana yang harus dihindari dan mana yang harus dikerjakan. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Mereka yang tamat SLTA justru yang paling banyak melakukan tindak kenakalan 17 responden (56,7%) yang berarti separoh lebih,  dengan terbanyak 12 responden (40%) melakukan kenakalan khusus, 2 responden (6,7%) melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, dan 4 responden (13,3%) melakukan kenakalan biasa. Demikian juga mereka yang pendidikan terakhirnya SLTP, dari 12 responden, 11 responden (36,7%) melakukan kenakalan khusus. Sedang mereka yang hanya tamat SD 1 responden juga melakukan kenakalan khusus. Dengan demikian maka tidak ada hubungan antara tingkatan pendidikan dengan  kenakalan yang dilakukan, artinya semakin tinggi pendidikannya tidak bisa dijamin untuk tidak melakukan kenakalan. Artinya di lokasi penelitian kenakalan remaja yang dilakukan bukan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka, karena disemua tingkat pendidikan dari SD sampai dengan SLTA  proporsi untuk melakukan kenakalan sama kesempatannya. Dengan demikian faktor yang kuat adalah seperti yang disebutkan di atas, yaitu adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif, dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman bermainnya atau faktor lingkungan sosial yang besar pengaruhnya.

  

                                                          

C. Hubungan Antara Kenakalan Remaja Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga

  

Dalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga, diantaranya   adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga  yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya serta mampu memenuhi kebutuhannya.

 

1.      Hubungan antara pekerjaan orang tuanya dengan tingkat kenakalan

 

      Untuk mengetahui apakah kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuanya, artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Karena pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini perlu diketahui karena dalam keberfungsian sosial, salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan data yang ada mereka yang pekerjaan oangtuanya sebagai pegawai negeri 5 responden (16,7%), berdagang 4 responden (13,3%), buruh 5 responden (16,6%), tukang kayu 2 responden (6,7%), montir/sopir 6 responden (20%), wiraswasta 5 responden (16,6%), dan pensiunan 1 responden (3,3%).

                             7

Dari tabel korelasi diketahui bahwa kecenderungan anak pegawai negeri walaupun melakukan kenakalan, namun pada tingkat kenakalan biasa. Lain halnya bagi mereka yang orang tuanya mempunyai pekerjaan dagang, buruh, montir/sopir, dan wiraswasta yang kecendrungannya melakukan kenakalan khusus. Hal ini berarti pekerjaan orang tua berhubungan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Keadan yang demikian karena mungkin bagi pegawai negeri lebih memperhatikan anaknya untuk mencapai masa depan yang lebih baik, ataupun kedisiplinan yang diterapkan serta nilai-nilai yang disosisalisasikan lebih efektif. Sedang bagi mereka yang bukan pegawai negeri  hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga kurang ada perhatian pada sosialisasai penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosisalisasi oleh kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan yang normative.

 

2.      Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan

 

         Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Artinya banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga

.

Dilihat dari keutuhan struktur keluarga, 21 responden (70%) dari keluarga utuh, dan 9 responden dari keluarga tidak utuh. Berdasarkan data pada tabel korelasi ternyata struktur keluarga ketidak utuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan kenakalan, terutama kenakalan khusus. Karena ternyata mereka yang berasal dari keluarga utuh justru lebih banyak yang melakukan kenakalan khusus.

 

Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi, terlihat jelas bahwa mereka  yang melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak serasi sebesar 76,6%. Perlu diketahui bahwa keluarga yang interaksinya serasi berjumlah 3 responden (10%), sedangkan yang interaksinya kurang serasi 14 responden (46,7%), dan yang tidak serasi 13 responden (43,3%). Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalaam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya melakukan kenakalan. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat, yaitu pada kenakalan khusus. 

 

3.      Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat kenakalan

 

Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rokhani. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. Berdasarkan data yang ada mereka yang keluarganya taat beragama 6 responden (20%), kurang taat beragama 15 responden (50%), dan tidak taat beragama 9 responden (30%). Dari tabel korelasi diketahui 70% dari responden yang keluarganya kurang dan tidak taat beragama melakukan kenakalan khusus.

 

      Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi  keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Hal ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil kemungkinan anaknya melakukan kenakalan, baik kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus, demikian juga sebaliknya.

 

4.      Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan

 

      Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden (16,6%), overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12 responden (40%), dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari tabel korelasi diperoleh data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan 11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus.  Dari kenyataan tersebut ternyata peranan keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.

 

5.      Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan

 

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lengkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi, karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketenteraman. Apabila hal itu dapat diciptakan, hal itu meruapakan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan sosialnya berjumlah 8 responden (26,6%), kurang serasi 12 responden (40%), dan tidak serasi 10 responden (33,4%). Dari data yang ada terlihat bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempunyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus. Keadaan tersebut dapat dilihat dari 23 responden yang melakukan kenakalan khusus   19 responden dari dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi.

 

6. Pernah tidaknya responden ditahan dan dihukum hubungannya dengan  keutuhan struktur dan interaksi keluarga, serta ketaatan keluarga dalam menjalankan kewajiban beragama 

                          

Data tentang responden yang pernah ditahan berjumlah 15 responden, dari jumlah tersebut 3 responden (20%) karena kasus perkelaian, masing-masing 1 responden (6,7%) karena kasus penegeroyokan dan pembunuhan, 5 responden (33,3%) karena kasus obat terlarang (narkotika) dan 8 responden (53,3%) karena kasus pencurian.                 

 

      Sedangkan responden yang pernah dihukum penjara berjumlah 10 responden dengan rincian 7 responden karena kasus pencurian, masing-masing 1 responden karena ksus pengeroyokan, pembunuhan, dan narkotika. Adapun lamanya mereka dihukum antara 1 bulan-3 tahun, dengan rincian sebagai berikut 4 responden (40%) dihukum penjara selama 1 bulan, 3 responden (30%) dihukum 3 bulan, masing-masing 1 responden (10%) dihukum 7 bulan, 2 tahun, dan 3 tahun . Dari responden yang pernah ditahan dan di hukum semuanya dari keluarga yang struktur keluarganya utuh, tetapi interaksinya kurang dan tidak serasi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah interaksi dalam keluarga merupakan sebab utama seorang remaja sampai ditahan dan dihukum penjara. Sedangkan dari sudut ketaatan dalam menjalankan kewajiban agam bagi keluarganya masih terdapat 1 responden yang pernah ditahan dan dihukum karena kasus pencurian. Artinya bahwa ketaatan beragama dari keluarganya belum menjamin anaknya bebas dari kenakalan dan ditahan serta dihukum.

 

D. Analisis Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja

 

          Setelah dianalisis secara bivariat antara beberapa variabel, maka untuk melengkapinya dianalisis secara statistik dengan rumus product moment guna  melihat keeratan hubungan tersebut. Berdasarkan tabel distribusi koefisiensi korelasi product moment diperoleh data sebagai berikut; nilai x = 510   y = 322 x2 = 9.010    y2 = 3.752     xy = 5.283    hasil perhitungan yang diperoleh = – 0,6022. Sedang nilai r yang diperoleh dalam tabel dengan taraf significansi 5%, dengan sampel 30 adalah 0,361   Berdasarkan data tersebut karena nilai r yang diperoleh dari hasil penelitian jauh dari batas significansi nilai r yang diperolehnya  berarti ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja yang dilakukan. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga, akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin  tinggi tingkat kenakalan remajanya.

     

      Dari uraian di atas bisa dilihat bahwa secara jenis kelamin terlihat remja pria lebih cenderung melakukan kenakalan pada tinglat khusus, walaupun demilikan juga remaja perempuan yang melakukan kenakalan khusus. Dari sudut pekerjaan atau kegiatan sehari-hari remaja ternyata yang menganggur mempunyai kecenderungan tinggi melakukan kenakalan khusus demikian juga mereka yang  berdagang dan menjadi buruh juga tinggi kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Pemenuhan kebutuhan keluarga juga berpengaruh pada tingkat kenakalan remajanya, artinya bagi keluarga yang tiap hari hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti yang orang tuanya bekerja sebagai buruh, tukang, supir dan sejenisnya ternyata anaknya kebanyakan melakukan kenakalan khusus. Demilian juga bagi keluarga yang interaksi sosialnya kurang dan tidak serasi anak-anaknya melakukan kenakalan khusus. Kehidupan beragama keluarga juga berpengaruh kepada tingkat kenakalan remajanya, artinya dari keluarga yang taat menjalankan agama anak-anaknya hanya melakukan kenakalan biasa, tetapi bagi keluarga yang kurang dan tidak taat menjalankan ibadahnya anak-anak mereka pada umumnya melakukan kenakalan khusus.Hal lain yang dapat dilihat bahwa sikap orang orang tua dalam sosialisasi terhadap anaknya juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kenakalan yang dilakukan, dari data yang diperoleh bagi keluarga yang kurang dan masa bodoh dalam pendidikan (baca sosialisasi) terhadap anaknya maka umumnya anak mereka melakukan kenakalan khusus. Dan akhirnya keserasian hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya juga berpengaruh pada kenakalan anak-anak mereka. Mereka yang hubungan sosialnya dengan lingkungan serasi anak-anaknya walaupun melakukan kenakalan tetapi pada tingkat kenakalan biasa, tetapi mereka yang kurang dan tidak serasi hubungan sosialnya dengan lingkungan anak-anaknya melakukan kenakalan khusus.   

 

VI.               Kesimpulan

 

Berdasarkan analisis di atas, ditemukan bahwa remaja yang memiliki waktu luang banyak seperti mereka yang tidak bekerja atau menganggur dan masih pelajar kemungkinannya lebih besar untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. Demikian juga dari keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya rendah maka kemungkinan besar anaknya akan melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat.Sebaliknya bagi keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya tinggi maka kemungkinan anak-anaknya melakukan kenakalan sangat kecil, apalagi kenakalan khusus. Dari analisis statistik (kuantitatif) maupun kualitatif dapat ditarik kesimpulan umum  bahwa ada hubungan negatif antara keberfungsian sosial keluarga dengan kenakalan remaja, artinya bahwa semakin tinggi keberfungsian social keluarga akan semakin rendah kenakalan yang dilakukan oleh remaja. Sebaliknya semakin ketidak berfungsian sosial suatu keluarga maka semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya (perilaku menyimpang yang dilakukanoleh remaja. Berdasarkan kenyataan di atas, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluuruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Hello world!

Mei 29, 2008 · 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

→ 1 CommentKategori: Uncategorized